Bangun Generasi Cerdas Digital, Dosen Ilmu Komunikasi dan Desain Universitas Pamulang Sosialisasikan Bahaya Disinformasi AI dan Hate Speech di SMK Ikhlas Jawilan

banner 468x60

Jawilan | informasinews.id – Dalam upaya meningkatkan kesadaran literasi digital di kalangan pelajar, para dosen Program Studi Ilmu Komunikasi dan Desain Universitas Pamulang pada hari Kamis 07 Mei 2026, melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMK Ikhlas Jawilan. Kegiatan ini mengangkat tema “Edukasi Pencegahan Dampak Disinformasi di Era Artificial Intelligence (AI) serta Komunikasi Strategis dalam Mengatasi Hate Speech di Media Sosial.”

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh fenomena meningkatnya penyebaran informasi palsu (disinformasi) dan ujaran kebencian di ruang digital, terutama di kalangan generasi muda. Sejumlah kajian menunjukkan bahwa pelajar merupakan kelompok yang rentan terpapar hoaks akibat tingginya intensitas penggunaan media sosial, namun belum diimbangi dengan kemampuan literasi digital yang memadai. Selain itu, perkembangan teknologi AI juga turut mempercepat produksi konten digital, sehingga diperlukan kemampuan berpikir kritis dalam menyaring informasi.

banner 336x280

Acara berlangsung di lingkungan SMK Ikhlas Jawilan yang dikenal memiliki fasilitas pembelajaran yang sangat baik serta siswa yang aktif dan partisipatif. Kegiatan diawali dengan sambutan dari Wakil Kepala Sekolah, Bapak Fahrudin, yang menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya edukasi literasi digital bagi siswa sebagai bekal menghadapi tantangan komunikasi di era modern.

BACA JUGA :  Miliki 100 Gram Sabu, Pria di Prabumulih Diciduk Polisi

Memasuki sesi inti, para dosen menyampaikan materi secara komprehensif dan interaktif. Materi pertama membahas tentang pemahaman dasar Artificial Intelligence (AI), termasuk bagaimana AI bekerja dalam menghasilkan teks, gambar, maupun video. Siswa diberikan contoh nyata bagaimana teknologi AI dapat dimanfaatkan secara positif, tetapi juga berpotensi disalahgunakan untuk menciptakan konten manipulatif seperti deepfake dan berita palsu. Hal ini sejalan dengan temuan bahwa AI menjadi salah satu faktor penting dalam dinamika disinformasi modern.

Materi selanjutnya berfokus pada disinformasi dan hoaks di media digital. Para peserta diberikan pemahaman mengenai perbedaan antara misinformasi, disinformasi, dan malinformasi, serta dampak negatifnya terhadap individu maupun masyarakat. Dalam sesi ini, siswa diajarkan langkah-langkah praktis untuk menghindari penyebaran informasi palsu, seperti, melakukan verifikasi sumber informasi, mengecek kredibilitas situs atau akun, membandingkan berita dari berbagai sumber, serta tidak mudah membagikan informasi yang belum jelas kebenarannya.

BACA JUGA :  DPRD Musi Rawas Tetapkan 13 Raperda Prioritas dalam Propemperda 2025, Dorong Transformasi Regulasi Daerah

Tidak hanya itu, materi juga membahas fenomena hate speech (ujaran kebencian) yang kerap muncul di media sosial. Siswa diajak memahami bentuk-bentuk hate speech, mulai dari komentar kasar, cyberbullying, hingga ujaran yang mengandung diskriminasi. Dijelaskan pula bahwa rendahnya etika komunikasi digital seringkali menjadi pemicu utama munculnya perilaku tersebut.

Sebagai solusi, para dosen memperkenalkan konsep etika bermedia sosial dan komunikasi digital yang sehat, di antaranya menggunakan bahasa yang sopan dan tidak provokatif, menghargai perbedaan pendapat, tidak terpancing emosi saat berinteraksi di dunia maya, serta berperan aktif dalam menyebarkan konten positif. Penelitian menunjukkan bahwa literasi digital yang baik tidak hanya mampu mengurangi penyebaran disinformasi, tetapi juga efektif dalam menekan praktik hate speech di media sosial.

Kegiatan berlangsung secara interaktif, di mana siswa terlihat sangat antusias mengikuti setiap sesi. Banyak di antara mereka yang aktif bertanya dan berbagi pengalaman terkait penggunaan media sosial dalam kehidupan sehari-hari. Diskusi ini menjadi ruang refleksi bagi siswa untuk memahami perilaku digital mereka sendiri.

BACA JUGA :  CV Gumay Sakti Siap Perkenalkan Kopi Liberika Ke Pasar Internasional

Sebagai bentuk penguatan materi, kegiatan juga diselingi dengan sesi praktik sederhana dan studi kasus, di mana siswa diminta mengidentifikasi berbagai bentuk hoax dan ujaran kebencian.

Menjelang akhir kegiatan, suasana semakin meriah dengan adanya sesi games edukatif yang berkaitan dengan materi yang telah disampaikan. Para peserta yang berhasil menjawab pertanyaan dengan benar mendapatkan berbagai hadiah menarik, sehingga menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus kompetitif.

Secara keseluruhan, kegiatan pengabdian masyarakat ini berjalan dengan lancar dan memberikan dampak positif bagi para siswa. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa materi yang disampaikan relevan dengan kebutuhan mereka di era digital saat ini.

Melalui kegiatan ini, diharapkan siswa SMK Ikhlas Jawilan mampu menjadi generasi yang lebih cerdas, kritis, dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi, khususnya dalam menghadapi tantangan disinformasi berbasis AI serta dalam mencegah penyebaran ujaran kebencian di media sosial.(*)

banner 336x280