Banjir Bandang Sungai Teriti Putuskan Dua Jembatan di Mekakau Ilir, Irigasi Pertanian Rusak Total

banner 468x60

OKU Selatan | informasinews.id– Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Mekakau Ilir, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan), Sumatera Selatan, menyebabkan banjir bandang yang mengakibatkan dua jembatan penghubung antar desa putus total. Peristiwa tersebut terjadi di wilayah Desa Teluk Agung pada Selasa malam (12/5/2026).

Banjir bandang yang berasal dari luapan Sungai Teriti itu juga menyebabkan tanah longsor, jalan amblas, serta merusak irigasi pertanian di Desa Tanjung Besar hingga tidak dapat lagi digunakan untuk mengairi sawah masyarakat.

Informasi yang dihimpun dari warga dan tokoh masyarakat setempat menyebutkan, hujan deras mulai mengguyur kawasan Mekakau Ilir sejak sore hari. Intensitas hujan yang tinggi membuat debit air Sungai Teriti meningkat drastis dan meluap sekitar pukul 21.00 WIB.

Arus sungai yang sangat deras menggerus badan jalan dan pondasi jembatan hingga menyebabkan dua jembatan penghubung antar desa putus total. Akibatnya, akses transportasi masyarakat menjadi terganggu dan kendaraan tidak dapat melintas.

Salah seorang tokoh masyarakat, Maulidin, mengatakan bahwa kondisi banjir kali ini merupakan salah satu yang terparah dalam beberapa tahun terakhir.

“Hujan deras yang terjadi sejak sore menyebabkan debit air Sungai Teriti naik sangat cepat hingga meluap sekitar pukul 21.00 WIB. Arus air yang deras menggerus tanah dan menyebabkan longsor serta jalan amblas,” ujar Maulidin saat dikonfirmasi.

Selain merusak infrastruktur jalan dan jembatan, banjir bandang juga menghancurkan saluran irigasi pertanian di Desa Tanjung Besar. Irigasi tersebut selama ini menjadi sumber utama pengairan sawah milik warga di wilayah sekitar termasuk untuk wilayah pulau duku .

“Kerusakan irigasi cukup parah, bahkan saat ini sudah tidak bisa digunakan lagi untuk mengairi sawah masyarakat. Kalau tidak segera diperbaiki, tentu akan berdampak pada aktivitas pertanian warga,” tambahnya.

Menurut Maulidin, banjir bandang yang terjadi diduga dipicu oleh kerusakan kawasan hutan di bagian hulu Sungai Teriti. Ia menyebut adanya dugaan penggundulan hutan dan aktivitas pembalakan liar yang membuat daerah resapan air semakin berkurang.

“Kami menduga banjir ini terjadi akibat penggundulan hutan di hulu Sungai Teriti. Selain itu juga diduga ada aktivitas pembalakan liar, sehingga air hujan tidak lagi terserap ke tanah dan langsung turun deras ke sungai,” ungkapnya.

Masyarakat dari Desa Teluk Agung, Tanjung Besar, dan Pulau Duku berharap Pemerintah Kabupaten OKU Selatan segera mengambil langkah cepat untuk menangani dampak bencana tersebut, terutama memperbaiki jembatan yang putus dan infrastruktur pertanian yang rusak.

“Kami berharap pemerintah daerah segera memperbaiki kedua jembatan yang putus akibat banjir bandang ini. Kami juga meminta Dinas Pertanian segera turun ke lokasi untuk meninjau kerusakan irigasi dan segera melakukan perbaikan agar aktivitas pertanian masyarakat tidak terganggu,” harap Maulidin.

Tak hanya itu, warga juga meminta Dinas Kehutanan dan instansi terkait turun langsung ke lapangan untuk menelusuri penyebab utama banjir bandang tersebut. Mereka berharap ada langkah serius dalam menjaga kelestarian hutan agar bencana serupa tidak kembali terjadi di masa mendatang.

“Kami berharap dinas terkait bisa turun langsung ke lapangan untuk mengetahui penyebab sebenarnya banjir ini, sehingga ke depan kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” tutupnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan korban jiwa akibat bencana tersebut. Namun kerugian material diperkirakan cukup besar karena rusaknya akses transportasi dan fasilitas pertanian warga.(Wgn)

BACA JUGA :  Sambut HLN ke-80, PLN UPT Baturaja Perkuat Keandalan Lewat Pemeriksaan Thermovisi

banner 336x280